Mari Belajar Bisnis: Apa Itu Investor, Investasi, dan Inkubasi?

Dalam dunia bisnis, ada banyak sekali istilah khusus yang mungkin masih terdengar cukup asing di telinga kebanyakan orang. Bagi Anda yang ingin terjun ke dunia bisnis dan latar belakang pendidikan Anda tidak berhubungan dengan dunia bisnis sama sekali, ada baiknya Anda mempelajari beberapa istilah tersebut agar Anda tidak “tersesat” nantinya. Paling tidak Anda harus tahu apa itu investor, inkubator, dan investasi dalam bisnis. Ketiga istilah tersebut amat sangat lekat hubungannya jika Anda seorang pebisnis pemula yang sedang memulai sebuah start-up bisnis. Mari kita bahas lebih jauh tentang istilah tersebut satu persatu.

belajar bisnis - inkubator dan inkubasi

Investor

Investor berasal dari bahasa Inggris “invest” yang artinya kurang lebih bisa dihubungkan dengan kegiatan menanam. Namun menanam di sini bukanlah berhubungan dengan menanam tumbuhan akan tetapi menanam dana. Pertanyaannya, kenapa menanam dana? Apa yang akan terjadi dari penanaman dana tersebut? Konsep investor adalah perorangan atau lembaga yang menyediakan dana yang kemudian ditanam untuk keperluan bisnis.

Dalam konteks yang sedang kita bahas yaitu dengan mengasumsikan Anda sebagai seorang pelaku bisnis pemula, coba bayangkan Anda memiliki sebuah ide bisnis namun Anda terkendala dana untuk memulainya. Di sinilah Anda membutuhkan bantuan seorang investor untuk menanamkan dana sebagai modal untuk usaha Anda. Dan pada saat penanaman modal tersebut terjadi, maka jalinan kerja sama antara Anda dengan investor akan terjadi. Dan yang namanya kerja sama selalu bertujuan untuk keuntungan kedua belah pihak.

Untuk Anda sebagai pelaku bisnis, Anda mendapatkan suntikan modal yang bisa memperlancar bisnis Anda. Anda bisa memulai bisnis dan menjalankannya dan kemudian mulai memperoleh profit. Sementara untuk investor, mereka akan bisa “memutar” uang mereka. Ketika mereka menanamkan modal, tentu saja mereka mengharapkan uang mereka akan kembali termasuk profitnya. Jadi biasanya investor dan Anda akan membuat kesepakatan berapa lama modal itu akan bisa kembali ke investor dan berapa persen keuntungan yang bisa didapatkan oleh investor. Ketika kesepakatan terjalin, di situlah kombinasi Anda dan investor bisa berjalan.

investor - belajar bisnis

Investasi

Investasi sendiri merupakan produk dari investor. Seperti yang sudah disebutkan di atas, modal yang ditanamkan pada Anda sebagai pelakon bisnis merupakan bentuk investasi. Dan seperti yang sudah dijelaskan di atas, investasi ini nantinya harus berusaha dikembalikan oleh pelaku bisnis kepada investor berikut keuntungan yang sudah disepakati bersama sebelumnya. Investasi ini tidak selalu harus dalam bentuk uang. Bisa jadi dalam bentuk barang.

Sebagai contoh, bisa jadi seorang investor ingin membantu Anda dengan menginvestasikan propertinya untuk keperluan kantor bisnis Anda. Atau bisa juga investor menanamkan modal dalam bentuk sebuah mobil untuk transportasi keperluan bisnis Anda. Dan untuk pengembaliannya, bisa juga dalam berbagai bentuk. Mengacu ke contoh di atas, bisa saja Anda membayar sewa untuk properti yang Anda gunakan sebagai bentuk pengembalian investasi kepada investor. Atau Anda juga bisa membeli mobil yang Anda gunakan dengan sistem mencicil.

Inkubasi

Sementara inkubasi merupakan sebuah program yang dirancang dengan tujuan untuk membuat keberhasilan sebuah bisnis untuk berkembang dan maju menjadi semakin cepat. Biasanya akan ada berbagai macam program mulai dari program permodalan hingga pembinaan untuk membuat sebuah bisnis menjadi lebih besar dan akhirnya akan memberikan dampak yang lebih besar bagi Anda sebagai pelaku bisnis maupun untuk orang lain seperti masyarakat yang kemudian bisa menjadi tenaga kerja bagi bisnis Anda.

4 Hal yang Paling Sering Membuat Start-up Tumbang

Era digital telah membuka peluang baru bagi bisnis-bisnis berbasis teknologi yang memberi kemudahan-kemudahan pada masyarakat. Dengan digawangi oleh kaum muda yang open minded, skillful dan high tech, kesempatan ini memberi angin segar pada perubahan pola hidup masyarakat yang makin efektif dan efisien dengan biaya rendah. Salah satunya dengan mendirikan start up-start up yang beragam yang berusaha memberikan solusi atas permasalahan masyarakat modern.

Contoh start up ini misalnya Gojek yang memberi solusi atas kemacetan kota besar di tengah padatnya aktivitas dan kebutuhan mobilisasi warga kota. Juga Bukalapak yang memberi wadah bagi pelapak tradisional dengan modal minim untuk memasarkan produknya tanpa harus mempunyai toko dan membuat aplikasi teknologi sendiri.

startup tumbang

Kesuksesan dua start up di atas tentunya bukan karena usaha semalam. Dengan kerja keras yang terus menerus, selalu belajar dan meningkatkan kualitas produk, menjadikan start up tersebut dapat eksis hingga saat ini. Lalu, hal apa sih yang perlu dicermati agar start up yang baru dibangun dapat bertahan dan sukses seperti start up yang sudah ada? Beberapa tips di bawah ini dapat dipertimbangkan untuk mencegah start up Anda tumbang:

  1. Single fighter founder

Ide, konsep yang kita miliki mungkin brilian dan luar biasa. Sebagai foundernya, ada kebanggaan karena mampu menciptakan produk yang out of the box dan dibutuhkan masyarakat. Namun, hal tersebut tidak akan membuat start up Anda bertahan lama jika Anda melakukannya seorang diri. Anda harus mencari partner untuk melengkapi skill yang sudah ada.

Contohnya jika Anda jago dalam hal desain, Anda harus memiliki partner di bidang marketing yang mampu menjadi corong pemasaran ide dan desain Anda ke masyarakat. Selain itu, komitmen dan saling pengertian harus menjadi hal yang selalu Anda perjuangkan bersama founder lainnya agar tidak ada perpecahan yang otomatis menggoyang start up Anda.

  1. Produk tidak/kurang dibutuhkan masyarakat

Seunik dan sehebat apapun ide dan konsep yang Anda miliki, jika produk tersebut tidak dibutuhkan masyarakat dan tidak memberikan solusi atas permasalahan yang ada, maka bisa dipastikan ide Anda hanya akan menjadi pajangan kehebatan saja. Untuk bisa bertahan dan berkembang, Anda harus menciptakan produk yang diinginkan masyarakat untuk bisa meningkatkan kualitas hidup.

gagal manajemen startup

  1. Ketidakmampuan manajemen dan keuangan

Start up Anda sudah berjalan, partner sudah berkolaborasi dan produk sudah dikenal, namun Anda melupakan faktor manajemen. Maka bisa dipastikan, hal yang bersifat day to day activity ini akan menjadi sebab tumbangnya start up idaman Anda. Ketidakmampuan pengelolaan keuangan dengan spending without logic juga akan membuat start up Anda kehabisan nafas. Sedangkan cashflow adalah darah bagi setiap bisnis.

  1. Terlalu fokus mencari investor

Investor itu penting bagi Anda yang ingin scale up dan mengembangkan jangkauan produk. Namun, jangan terfokus dengan prinsip tanpa ada investor, bisnis tidak berkembang. Karena tidak selamanya keberadaan investor membuat sebuah start up meraih kesuksesan. Mendapatkan pendanaan besar iya, namun bukan berarti langsung meningkatkan sales dari produk. Apalagi jika sang investor memiliki persyaratan-persyaratan tertentu yang dapat menghalangi gerak founder berkreasi. Pertimbangkan dengan bijak dan fokuslah pada manfaat produk. Kenalkan ke masyarakat sehingga ada rasa butuh atas produk start up kita yang otomatis akan mendatangkan investor dengan sendirinya.

  1. Salah merekrut karyawan

Sebagai sebuah perusahaan yang baru berdiri dengan segala sesuatunya dilakukan learning by process, kesalahan perekrutan sudah dimaklumi bisa terjadi. Walaupun sudah menggunakan tools psikolog, hal-hal seperti ini mafhum terjadi. Bahkan di perusahaan besar sekalipun. Jika menyadari hal ini, segera lakukan tindakan preventif untuk menghindari dampak yang lebih parah. Jangan biarkan orang lain, yang notabene bukan pihak yang berdarah-darah mendirikan start up ini menghancurkan bisnis Anda.

Jika tips-tips di atas dijalankan, maka start up idaman Anda dapat terhindar dari fakta yang umum terjadi pada bisnis yang baru dirintis. Yaitu dari 100 persen bisnis baru, 90 persennya tutup di tahun pertama.